Sabtu, 05 Juni 2021

KIAI IMAM SARANG MENGALIRKAN IKAN BANDENG KE SUNGAI



Desa Sarang Rembang berada di pinggir sepanjang pantai utara. Sehingga mata pencaharian warga adalah mencari ikan di laut. Pada suatu masa, masyarakat desa Sarang tengah kesulitan mendapakkan ikan dari melaut. Ikan sulit didapatkna dari laut, sehingga masa itu disebut masa paceklik ikan. Dengan kondisi seperti itu perekonomian warga mulai terganggu. Penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari menurun drastis.

Dalam kondisi paceklik seperti itulah masyarakat dikejutkan dengna banyaknya ikan di sungai yang membelah desa Sarang. Banyaknya ikan yang ada di sungai secara tiba-tiba langsung tersebar seantero desa Sarang. Sehingga masyarakat Sarang pada turun ke sungai untuk mencari ikan. Ikan yang didapat tidak lain adalah ikan bandeng. Bukan lele, sepat, kutuk, atau lainnya. Masyarakat terheran-heran, dari mana gerangan ikan bandeng tersebut?

Setidaknya hari itu masyarakat Sarang sedang panen bandeng. Mereka pada bergembira mendapat rejeki ikan bandeng yang tidak terduga-duga datangnya. ;

Sebelumnya, di hari yang masih pagi sekali, Kiai Imam bersama seorang santri tengah menengok kolam tambak miliknya yang tengah berisi bandeng siap panen.

Tiba-tiba Kiai Imam menyuruh kepada santri untuk melakukan sesuatu yang tak terduga.

“Cung, bedah tanggul kola ini!”  Perintah Kiai Imam.

Kang Santri tampak kaget. Karena jika dibedah, ikan di kolam pasti pada kabur ke sungai desa. Namun Kang Santri tidak berkutik.

“Nggih Kiai!” Jawab santri.

Tidak lama kemudian, tanggul kolam berhasil dibedah. Dan ikan-ikan bandeng pada pada berhamburan mengalir ke sungai. Si santri hanya bisa melongo tak mengerti.

“Mengapa ikan-ikan ini dibuang ke sungai?” Batin santri. 

Sementara Kiai Imam tampak senang, tersenyum lega. Setelah itu Sang Kiai beranjak pulang.

Sepeninggal Kiai Imam, Kang Santri memiliki ide untuk menutup kembali tanggul kolam. Maka segera ia menutup kembali tanggul kolam itu.

Kang Santri tersentak kaget, tiba-tiba Kiai Imam sudah ada di belakangnya.

“Lho, kok ditutup kembali. Ayo buka saja, biar ikannya mencari teman!” Kata Kiai Imam.

Kang Santri segera membuka kembali tanggulnya, hingga ikan bandeng pada mengalir bebas ke sungai.

Belakangan Kang Santri baru tahu, bahwa masyarakat Sarang hari itu tengah bergembira memanen bandeng.  Padahal saat itu sedang musim paceklik ikan. Pahamlah ia kini.  (***)

Sabtu, 29 Mei 2021

BERAGAMA ITU SANTUN

Fatim dan Sonya adalah gadis kecil kelas satu SD yang bersahabat. Mereka bertetangga dekat. Mereka selalu terlihat bermain bersama. Main pasaran bersama. Meski berbeda agama, mereka sungguh tidak cangungg. Tentu bagi anak kecil seperti mereka tidak mengerti apa itu agama. Yang mereka tahu adalah berteman. Bersahabat. Berkarib.

Kedekatan mereka terbawa hingga ke tempat mengaji Fatim. Ketika Fatim berangkat mengaji di sebuah TPQ tidak jauh dari rumahnya, kerapkali Sonya ikut. Bahkan ikut membawakan buku Iqro’ nya Fatim. Bahkan ikut mengantrikan Iqro’ temannya itu. Ketika tiba giliran Fatim, Sonya segera mengingatkan.

Penulis sebagai guru ngajinya Fatim membiarkan keunikan dua gadis ini terjadi di depan mata. Tetangga yang melihat juga tampak gumun, ada anak beragama Nasrani ikut duduk di dampar TPQ.

Yang penulis pikirkan adalah, untuk tataran pergaulan, bagi orang dewasa yang berbeda agama tentunya bisa meniru anak kecil. Ada saatnya harus beribadah, maka itu urusan masing-masing. Namun di saat urusan dunia, bisa saling bergaul. Apalagi jika orang lain agama itu adalah tetangga sendiri. Maka sikap orang muslim adalah sebagaimana digariskan oleh Rasulullah SAW, yaitu muliakanlah tetangga.

Rasulullah sendiri mencontohkan di masa hidupnya, betapa Beliau bisa bergaul dengan manis terhadap orang lain yang tidak seiman. Menuju era kekinian, sebagian orang Islam menerapakna agamanya dengan cara kasar dan galak. Dengan kasar dan galak dalam beragama, itu sama saja mencoreng agama itu sendiri. Islam adalah agama selamat. Agama yang santun. Agama Rahmatan lil alamin.

Syukurnya negeri Indonesia yang kaya dan hijau ini. Banyak suku dan budaya serta beragam agama. Ada hujan dan panas yang memakmurkan. Ada Walisongo yang berdakwah negeri ini dengan penuh kearifan. Tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan. Tapi di tengah-tengah. Dengan budi pekerti. Dengan santun. Semuanya bisa menerima dengan indahnya. Maka jayalah negeri Indonesia dalam bingkai Pancasila dan NKRI.  

Rasulullah bersabda;  “Sungguh saya diutus semata untuk menyempurnakan akhlak.”  (***)

Jumat, 28 Mei 2021

MEWASPADAI PENYUSUP LEWAT HANDPHONE ANAK

Ini zaman adalah zaman kelimpahan. Artinya, semua barang kebutuhan manusia melimpah ruah. Untuk satu kebutuhan saja, sebuah rumah tangga akan memiliki banyak barang. Untuk sekedar tempat sampah, walaupun ada  tempat sampah yang lama, tetap beli baru karena bentuknya baru dan lebih unik. Barang kebutuhan saat ini sifatnya tidak lagi karena butuh, tapi butuh dan menghibur.

Demikian juga dengan handphone atau HP. Karena orang tua pada pegang HP masing-masing dua buah, maka si anak bisa memakai salah satunya untuk main game. Bahkan, dibelikan baru oleh orang tuanya. Bahkan, lebih bagus dari milik orang tua. Setiap anak, satu HP. Hitunglah, ada berapa HP di rumah. Gambaran ini adalah untuk orang yang cukup berada. Bagi orang ekonominya menengah ke bawah, HP menjadi tersedia karena tuntutan belajar daring. Semenjak ada pandemi covid-19. Bisa dipastikan, saat ini, akhir-akhir ini, hampir setiap anak negeri memegang HP sendiri. Jangan ditanyakan, bagaimana dengan kuotanya?  

Jika si anak sudah pegang HP, maka kewajiban orang menjadi dobel. Tidak semata mengawasi keseharian mereka, tapi juga memelototi HP mereka. Seperti apakah anak-anak pegang HP. Saking seringnya ber-HP ria, si anak menjadi sangat lincah. Mereka bisa berselancar apa saja, selain untuk belajar. Kepekaan mereka, kepedulian mereka, makin tertumpu pada HP. Begitu terus-menerus sehingga kepedulian di dunia nyata terabaikan. Komunikasi mereka menjadi terhambat, karena pikiran mereka melulu di dunia maya. Jika sudah sejauh ini, orang tua harus pontang-panting untuk mencari pengobatan. Pengobatan kejiwaan. Ini sunguh mengerikan. Dan ini baru satu hal.

Ada hal-hal lain yang juga harus jadi perhatian. Jika anak ber-medsos ria, jangan-jangan hoax, radikalisme, ujaran kebencian, dan lainnya, juga menyasar mereka. Remaja dan anak-anak adalah ladang empuk bagi sesuatu yang baru. Sungguh berbahaya jika yang baru itu adalah hal buruk yang merusak akal sehat.

Sejak dini, orang tua harus hadir di kehidupan anak-anak yang sudah akrab dengan HP ini. Orang tua harus mendampingi anak-anak. Orang tua harus menjadi sahabat anak-anak. Dengan berlindung di balik belajar daring demi mengejar pendidikan di masa pandemi, jangan sampai ada penyusup di dunia anak-anak kita. (***)

Kamis, 27 Mei 2021

SALEH SOSIAL PARA WALI ALLAH


Semua orang sudah pada faham, bahwa Wali Allah adalah kekasih Allah. Orang yang sangat dekat dengan Allah. Ibadahanya pada Allah begitu luar biasanya, sehingga sulit diikuti oleh orang awam. Anggapan banyak orang bahwa kedekatan Wali dengan Tuhannya adalah karena ritualnya tersebut.

Jika kita melihat kisah-kisah Wali Allah, justru yang menonjol dari para wali itu adalah karena perilakunya. Atau istilah umumnya adalah saleh sosial. Karena saleh ritualnya para wali tidak lagi diragukan kualitasnya, sehingga jarang orang yang mengungkap.

Contoh saleh sosial para wali ini adalah sebagaimana penulis ceritakan pada tulisan lainnya. Yaitu kisah Kiai Imam Sarang yang membuang bandengnya ke sungai. Kiai Imam yang pengasuh Pondok Pesantren MIS Sarang ini begitu mudahnya membuang ikannya ke sungai dengan maksud agar dipanen oleh masyarakat. Ini adalah salah contoh saleh sosial yang tidak biasa, alias luar biasa.

Contoh lainnya, Imam Hasan Basri yang hidup di rumah susun di kota Basrah Irak, bertetangga dengan orang Nasrani yang berada di tingkat atasnya. Tidak disangka, di kamar Imam Hasan menetes air dari atas. Dari kamar mandinya orang yang bertempat di atasnya. Syeh Hasan Basri diam saja, tidak melapor pada yang bersangkutan. Sang Imam hanya menampung dan membuangnya keluar. Hingga suatu hari Imam Hasan sakit. Dan tetangga Nasrani yang bertempat di atasnya menengok Imam Hasan. Barulah sang tetangga tahu, bahwa selama ini air kamar mandinya menetes di kamarnya Imam Hasan. Dan yang mengejutkan, hal itu berlangsung selama 20 tahun. Akhirnya si tetangga masuk Islam.

Masih ada contoh lainnya. Peristiwa unik terjadi pada masa Kesultanan Murad. Ada seorang tua yang suka membeli minum-minuman keras di toko-toko. Sehingga masyarakat mengenalnya sebagai pemabuk berat. Ternyata, si kakek melakukan itu adalah untuk dibuang isinya di toilet, untuk mengurangi jumlah minuman di toko, agar tidak dibeli pemuda. Istrinya mengingatkan, nanti dikhawatirkan tidak ada tetangga yang mengurus jika si kakek meninggal. Karena si kakek dikenal sebagai pemabuk berat. Tapi si Kakek tenang saja, katanya nanti yang mengurus dirinya kala meninggal adalah seorang Sultan. Benar saja, si kakek meninggal di jalan. Tidak ada orang yang peduli. Sehingga lewatlah Sultan Murad dan tentaranya. Sebagai seorang muslim yang baik, Sultan membawa pulang jenazah itu ke rumahnya untuk di urus. Dan Sultan mendengar cerita istrinya, tentang kebiasaan kakek yang memborong minuman keras. Dan kelak yang akan mengurus jenazah Si Kakek adalah seorang Sultan. Sadarlah Sultan Murad, jenazah di depannya itu adalah seorang Wali Allah. Segera masyarakat di beritahu. Dan mereka dengan senang hati mengurus jenazah Si Kakek yang ternyata bukan orang sembarangan.

Tentu, sekecil apapun saleh sosial harus dilatih dan dipraktekkan, walaupun itu sekedar menyingkirkan duri yang mengganggu di jalanan. (***)

Rabu, 26 Mei 2021

MELIHAT GERHANA, MELIHAT TUHAN

 


Beberapa hari menjelang gerhana total bulan pada tanggal 26 Mei 2021, grup medsos whatsapp ramai dengan pemberitahuan akan datangnya gerhana bulan. Plus anjuran salat sunnah gerhana bulan, tata cara shalat dan acuan protocol kesehatan. Beberapa grup Al-Whatsappiyah antara lain Grup FKPI Kabupaten Rembang, Grup Moderasi Jawa Tengah, Grup DMI, Grup 14-an, dan grup-grup lainnya juga tidak ketinggalan.

Tidak terhitung lagi jumlahnya di Grup Al-Fesbukiyyah sangat bejibun banyaknya. Grup Al-fesbukiyyah antara lain dari Kemenag Rembang, Kemenag Jakarta, Gus Tutut, dan juga grup-grup lainnya sangat ramai membincangkan gerhana bulan.

Puncak dari semuanya itu adalah betapa kuasa Allah SWT terhadap alam semesta ini. Tuhan semesta alam ini suka-suka saja, mau dibuat apa dunia seisinya ini. Dengan gerhana Allah memperingatkan hamba-hambanya yang bisa berfikir. Kelak, dunia seisinya ini akan kiamat. Sehingga ada perintah dalam agama Islam yaitu salat sunnah Khusuf (rembulan). Perintah lainnya adalah memperbanyak dzikir dan bersedekah. Yang kesemuanya di dalam hukum fikih statusnya sunnah muakkad. Sunnah yang sangat dianjurkan.

Melihat gerhana bulan, tentu juga melihat planet-planet lain yang di galaksi. Bulan dalam lingkup satu galaksi yang diberi nama Galaksi Bimasakti. Di luar galaksi ini ada galaksi lain yang menyerupai galaksi Bimasakti. Dan jumlahnya tidak terhitung. Bayangkan saja, betapa luasnya jagat raya ini. Pastinya betapa Mahabesarnya Tuhan Allah SWT, yang menguasai, yang mencipta alam raya ini.

Di pelajaran MTs dulu, ada dalil sebuah hadits yang harus dihafalkan, agar bisa mengerjakan test, tentang perintah untuk manusia agar memikirkan ciptaan Allah. Terjemah hadits tersebut adalah:

“Berfikirlah kalian tentang makhluk (ciptaan Allah), janganlah kalian berfikir tentang kholiq (sang pencipta), karena kalian tidak akan mampu.”

Dengan memikirkan gerhana bulan, memikirkan ciptaan Tuhan yang bertebaran di planet diharapkan bisa menambah keimanan seseorang. Betapa kebesaran Tuhan sungguh nyata. Allah Maha Besar. Jika otak mulai nakal, mengajak memikirkan tentang Tuhan, segeralah diajak ngopi untuk dilupakan. 

(***)

Senin, 14 Januari 2019

ULAMA-ULAMA INDONESIA DI SINI




Atas :
KH. MUSTHOLIH Kesugihan
KH. MAIMUN ZUBER Rembang
KH. MA’RUF AMIN
KH. ILYAS RUHIYAT
KH. FUAD HASYIM Cirebon
KH. ALIE YAFI
KH. ACHMAD SHIDDIQ
KH. M. YUSUF HASYIM
KH. SAHAL MACHFUDZ
KH. CHOTIBUL UMAM

Tengah :
KH. MOENASIR
KH. ABDURROHMAN WAHID
KH. CHALID MAWARDI
KH. MUJAB
KH. HAFIDZ USMAN

Bawah :
IKHWAN SYAM
ROZI MUNIR
A  BAGJA

#Pustaka_Tebuireng

Selasa, 12 Desember 2017

KIAI MUSLIH DAN MALING

Di sebuah bilik toko kecil dan gelap itu, seorang laki-laki tak diundang tengah mengendap endap ke sana kemari. Ia mengumpulkan sesuatu kemudian dimasukkan karung. Setelah dirasa cukup membawa barang yang mungkin nilainya tidak seberapa, si maling hendak pulang. Ia mencari jalan keluar yang awalnya dia masuk tadi. Namun pintu masuk sebelumnya tidak ditemukan lagi.
“Mungkin salah pintu,” begitu batinnya. “Pasti ada pintu lainnya!”
Sebagai maling yang diburu waktu, ia mulai merasakan kepanikan. Waktu adalah keselamatan, mungkin begitu semboyannya. Selalu saja pintu yang dituju itu ternyata bukan pintu, tapi sebidang dinding yang tidak mungkin bisa dilewati. Bahkan setiap jengkal dinding ia telusuri, sedikitpun tidak ditemukan pintu. Atau semacam jendela yang bisa didongkel. Atau celah dinding rusak pun tidak ditemukan. Hingga kelelahan dan kakinya lemas, si maling tetap juga tidak menemukan jalan keluar. Hingga akhirnya ia terduduk pucat pasi di pojok ruangan menungu nasib.
“Tamatlah riwayatku!” Ia menghela nafas berat.
Ia membayangkan tuan rumah akan berteriak-teriak: “Maling...maling!!” Dalam sekejab orang-orang datang dan menangkapnya. Kemudian mereka memukulinya membabi buta. Setelah puas dipukuli, dirinya diserahkan ke Polisi. Dihukum!  Ia membayangkan hari-hari panjang di balik jeruji besi di hotel prodeo, alias penjara. Ia pikirkan pula bagaimana nasib anak-anak dan istrinya. Tiba-tiba ia menjadi seorang yang lemah tak berdaya, seperti kucing yang lagi sakit kecemplung comberan. Padahal sebelumnya ia adalah seorang laki-laki gagah perkasa, penuh keberanian. Sekaligus penuh kenekatan, walaupun itu salah! Tak terasa setetes embun mengalir dari pojok matanya.
Saat itulah Kiai Muslih, pemilik rumah tengah bangun dan melewati ruang tokonya dari dalam rumah. Melihat ada orang yang ketakutan di pojokan toko, Kiai Muslih heran.
“Kang, ngapain di situ?” Tanya Kiai Muslih.
Gragap!!! Betapa kagetnya si maling. Ia tidak kuasa menjawab. Ketakutannya makin menjadi manakala Kiai mendekatinya. Kiai Muslih tanggap akan ketakutan si maling.
“Sudah di sini saja. Aku akan shalat dulu, nanti kita bisa sahur bersama!” Kata Kiai Muslih sambil berlalu menuju tempat wudhu.
Si maling tampak lega. Wajahnya yang semula gelap penuh ketakutan menjadi cerah kembali. Beberapa saat ditunggu, Kiai Muslih kembali lagi usai melaksanakan shalat malam.
“Kang, ayo ke sini. Temani aku makan sahur!” Panggil Kiai Muslih.
Si maling tidak bisa menolak. Ia merasakan kesejukan yang luar biasa, padahal sebelumnya ia merasakan hawa pengap dan panas membakar. Tanpa banyak bicara, jelang fajar itu ia ikut makan bersama Kiai Muslih yang tengah sahur. Setelah selesai makan, Kiai Muslih tidak mengucapkan apa-apa kecuali memberi sedikit uang untuk dibawa pulang si maling.
“Ini uang sedikit untuk sangu pulang. Hati-hati di jalan ya Kang!” Kata Kiai Mulsih mengantarkan tamunya keluar rumah.
Si maling mencucup tangan Kiai Muslih sambil menahan tangisnya, walaupun lelehan air mata tidak bisa dihindari. Kali ini ia benar-benar menangis. Berkali-kali minta maaf dan mengucapkan terima kasihnya kepada Kiai Muslih, kemudian berlalu di kegelapan malam.
Si maling dilepas dengan damai oleh Kiai Muslih. Bukan berarti Kiai Muslih tidak paham akan hukum maling serta konsekuensi hukumannya, tapi sebagai ulama tidak semudah itu menghukum orang salah. Ada pesan kearifan Islam yang hendak disampaikan. Kiranya dakwah dengan perbuatan akan berdampak lebih mendalam dan panjang daripada dakwah dengan lisan. Diharapkan kelak si maling menjadi tersadar, dan anak keturunannya menjadi orang baik-baik. Wallahu a’lam.   (Ali Shodiqin)


(Sebagaimana diceritakan oleh KH. Yahya Cholil Staquf pada Nuzulul Qur’an, 17 Ramadhan 1437 H di Masjid Agung Rembang, Jawa Tengah)

Kamis, 20 Oktober 2016

Sesaat Bertemu Wali Allah


Abdullah bin Mubarok adalah seorang tokoh ulama yang terkenal dengan doanya yang makbul. Banyak masyarakat yang tercapai hajatnya setelah meminta didoakan oleh Sang Kiai.
Suatu hari Kiai Abdullah melihat kerumunan di sebuah tanah lapang yang luas. Sang Kiai mendekat kerumunan tersebut, dan ternyata orang-orang pada menunaikan salat Istisqa’, salat minta hujan. Kiai Abdullah nimbrung disana, ikut berdoa. Tanpa sengaja Kiai berdiri tidak jauh dari pak tua yang kurus, dekil, dengan pakaian putih yang rapuh melekat di badannya.
Samar-samar Kiai yang kebetulan pendengarannya sangat baik itu mendengar bisikan doa Pak Tua: “Ya Allah, demi cinta Engkau terhadap diriku, mohon turunkanlah hujan saat ini juga.”
Saat itu juga, suasana yang semula panas, langit biru terang, tiba-tiba mendung menggumpal datang. Dan turunlah hujan yang sangat deras.
Melihat kejadian itu, Kiai Abdullah bin Mubarok terkesima. Karena penasaran, Kiai Abdullah mengikuti pulangnya orang-orang yang sudah bubaran dari salat Istisqa. Rupanya mereka adalah sekumpulan budak milik orang kaya. Budak-budak itu kembali ke barak  masing-masing.
Kiai Abdullah bermaksud membeli salah satu budak yang dikehendaki kepada sang majikan. Ketika bertemu, diutarakan maksud dan tujuannya.
“Sumangga, silahkan pilih budak yang hendak Anda beli,” demikian kata majikan pada Kiai Abdullah.
Kiai Abdullah mencari-cari seorang budak yang tidak lain Pak Tua yang dilihatnya di tanah lapang. Ternyata sampai lama tidak diketemukan juga. Maka Kiai Abdullah kembali kepada majikannya.
“Anda siapa? Budak macam apa yang Anda cari?” Tanya majikan budak heran.
“Saya Abdullah bin Mubarok. Yang saya cari adalah seroang tua yang berpakaian putih kumal!” Jawab Kiai Abdullah.
“O... Kiai Abdullah bin Mubarok yang terkenal itu. Selamat datang di tempat kami,” majikan menunjukkan rasa hormatnya. “Di pojok sana ada seroang pak tua yang mungkin Pak Kiai cari. Untuk yang satu itu gratis untuk Jenengan!”
Benar saja, Pak Tua yang dicari Kiai Abdullah ditemukan. Hari itu juga sang budak dimerdekakan, diberikan kepada Kiai Abdullah.
Di tengah jalan, Pak Tua bertanya pada Kiai Abdullah: “Pak Kiai, mengapa Anda memerdekakan saya?”
“Begini Pak Tua. Saya tadi sungguh takjub melihat doa Pak Tua yang makbul. Minta hujan seketika turun hujan. Mohon ijinkan saya berguru kepada Anda!” Jawab Kiai Abdullah penuh rasa hormat.
Pak Tua tampak kaget. Lantas terduduk lemas dengan wajah penuh kesedihan.
“Bolehkah aku minta kesempatan untuk salat dua rakaat di masjid terlebih dahulu?” tanya Pak Tua.
“Silahkan Pak Tua!”
Pak Tua segera menuju masjid dan salat tahiyat masjid dua rekaat. Kiai Abdullah juga salat seperti Pak Tua. Usai salat, Kiai Abdullah yang memiliki pendengaran bagus itu mendengar bisikan doa Pak Tua yang lembut.
“Ya Allah, rahasia antara Engkau dan aku sudah terbongkar. Berarti tugasku di dunia ini sudah selesai. Mohon kembalikanlah diriku kepada Engkau saat ini juga!”
Saat itu juga, Pak Tua tersungkur dari duduknya, wafat. Kiai Abdullah hanya bisa termangu-mangu melihat kejadian hebat di depan matanya.
Wali Allah memang selalu penuh rahasia dan misterius. Tidak seperti wali kesiangan, serta merta menampakkan kehebatan dan keanehan dirinya di depan orang banyak agar disebut wali.  (Ali Shodiqin)
(Diceritakan kembali oleh KH. Zaim Achmad Ma’sum pada malam Patbelasan PCNU Rembang, tgl.14 Oktober 2016, di Ponpes Raudlatut Thalibin Leteh Rembang)

Selasa, 03 Mei 2016

Doa Penangkal Maling


Masjid Syek Kholil Bangkalan

Sore itu Syekh Kholil tengah mengajar santri-santrinya ilmu Nahwu. Ketika sedang asyiknya mengaji datanglah seorang tamu dari desa.
“Assalamu’alaikum Syekh.....” terdengar salam dari tamu itu.
“Wa’alaikum salam. Silahkan duduk Pak,” jawab Syekh Kholil.
Tampaknya tamu tersebut tengah membutuhkan penanganan serius, sementara Syekh mesti mengajar. Syekh memilih segera menemui sang tamu.
“Kira-kira apa yang bisa saya bantu Pak?” Tanya Syekh penuh perhatian.
“Begini Syekh. Saya hendak panen melon, sementara akhir-akhir ini banyak maling yang suka menjarah hasil panenan. Saya mohon Syekh memberi saya doa.”
Syekh diam sejenak. Kebetulan, sebelum kedatangan tamu, Syekh tengah mengajar santri pemula tentang Nahwu. Sampailah pada contoh kalimat ‘QOOMA ZAIDUN’ (Zaidun berdiri).
Spontan Syekh berkata: “Baca doa ini ya “QOOMA ZAIDUN” sambil mengitari sawah, menjelang panen sebanyak-banyaknya ya Pak!”
“QOOMA ZAIDUN. Begitu Syekh?”
“Ya betul! Sudah hafal kan?”
“Sudah Syekh. Terima kasih  ya Syekh.” Sang tamu pamit dan menjabat tangan Syekh dengan penuh girang.
Benar saja, malam menjelang panen Pak Tani membaca wiridan “QOOMA ZAIDUN...... QOOMA ZAIDUN...... QOOMA ZAIDUN......” sebanyak-banyaknya sambil mengitari sawahnya.
Esoknya, ketika Pak Tani beserta warga lain yang hendak memanen melon, dikejutkan oleh tiga orang yang tengah diam berdiri seperti patung. Mereka hanya terdiam tidak bisa menggerakkan tangan maupun kakiknya. Dari raut wajahnya tampak pada ketakutan melihat pemilik sawah dan kawan-kawannya pada berdatangan.
“Ooo, rupanya kalian malingnya toh!” Seru Pak Tani sambil memandang para maling yang pada gemetran itu.
Pak Tani baru sadar ternyata semalam sawahnya benar-benar kedatangan maling. Doa yang dibacanya tampaknya diterima Allah SWT, sehingga tiga maling di sawah itu tak berdaya.
“Alhamdulillah....” Seru Pak tani tertawa lebar. 
Singkat cerita tiga maling tersebut akhinrnya diampuni dan disuruh pulang tanpa dilukai sedikitpun.
Dan Pak Tani pun tidak sadar bahwa doa yang dibacanya boleh dikata seperti “guyonan” saja, seolah-olah dia tengah banyak melakukan amalan-amalan doa. Sebenarnya, nun jauh di sana, Wali Allah Syekh Kholil Bangkalan tengah khusyuk bermunajat, agar apa yang dikeluhkan oleh Pak Tani diberi jalan keluar oleh Allah SWT.
(ALI SHODIQIN)
(Sebagaimana diceritakan oleh KH. Roni Semarang, dalam acara Patbelasan plus Harlah NU ke-93, yang diselenggarakan oleh PCNU Rembang, 21 April 2016, di Ponpes Raudhatut Tholibin Leteh Rembang).