Jumat, 23 April 2010

GUS DUR: Suka Tidur Saat Rapat

Semua orang maklum, Gus Dur tidak pernah mau berhenti beraktivitas. Ketika masih menjabat Ketua Umum PBNU, Presiden RI, Ketua Dewan Syuro PKB, Gus Dur tak henti-hentinya berakrtivitas. Beliau sering keluar masuk kampung, pesantren hingga ke seluruh pelosok negeri. Dan Gus Dur pun jarang capek. Padahal menurut ajudannya, Gus Dur tidak pernah minum jamu. Hal itu dibenarkan oleh istrinya, Ibu Hj. Sinta Nuriyah. Pernah seseorang menanyakan langsung kepada Gus Dur dan orang-orang dekatnya, apa kiatnya agar Gus Dur kuat dalam bekerja.

Rupanya, menurut pengakuan Gus Dur kiatnya adalah makan dan tidur yang cukup. Jika merasa mengantuk, Gus Dur seketika itu pula akan tidur, meskipun dalam rapat. Rupanya, inilah jawaban terhadap pertanyaan banyak orang tentang mengapa Gus Dur seringkali tertidur pada saat berlangsungnya suatu acara, sekalipun acara itu sangat penting.

"Kalau ingin tidur, ya tidur saja. Kok mekso-mekso," cetusnya suatu ketika.

KH. SAHAL MAHFUDZ KAJEN: Menguji Kesabaran Santri

Peribahasa mengatakan : "Diam adalah emas." Tapi diam bisa juga ujian. Itulah yang dialami oleh sopir Kyai Sahal Mahfudz yang juga santrinya itu.

Suatu ketika, Kyai Sahal melakukan perjalanan selama empat jam menuju Semarang, namun selama itu pula Kyai Sahal hanya diam saja. Tidak ngomong sedikitpun, atau hanya sekedar bertegur sapa untuk memecah kesunyian. Tentu saja sikap Kyai yang diam itu bikin salah tingkah sopir yang tampaknya masih baru itu. Untunglah sang sopir sabar, hingga selama perjalanan tak terjadi apa-apa.

Sesampai di rumah, si sopir segera menemui salah satu santri senior untuk menanyakan perihal diamnya Kyai Sahal. "Itu artinya, kamu diuji kesabaranmu!"
"Oo...?!" ternyata hanya dengan diam bisa menguji kesabaran orang lain.

KH. SYAHID KEMADU: Lahirnya Pesantren Hamdalah

Jika orang pernah ketemu Kyai Syahid Kemadu Rembang, pasti akan disuguhi oleh ucapan beliau yang sedikit-sedikit berucap hamdalah, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap beberapa detik, selalu saja berucap : "Alhamdulillah....Alhamdulillah....."

Yang berbeda adalah dari cara beliau mengucapkan hamdalah. Anda akan merasakan muatan syukur yang dalam dari cara beliau melafalkannya, demikian komentar Kyai Mustofa Bisri suatu ketika.

Kyai Syahid adalah pengasuh pesantren yang sejak berdiri tak diberi nama. Tentu banyak yang menanyakan apa sesungguhnya nama pesantren yang oleh kalangan santri disebut 'Pondok Kemadu' itu. Pada sebuah kesempatan di hadapan santri-santrinya, dengan penuh kerendahan hati beliau berkata : "Wong pesantren segitu saja kok diberi nama!"

Karena saking terkenalnya beliau berucap Alhamdulillah, disisi lain orang ingin tahu nama pesantren tersebut. Akhirnya (menurut cerita KH Faqih Mlagen Pamotan, ketika mengisi ceramah di Ponpes As Syatibiyah Kauman Rembang, April 2010), KH Cholil Bisri memberi solusi dengan menyebut pesantren Alhamdulillah saja. Maka oleh banyak kalangan disebutlah pesantren Kyai Syahid dengan sebutan Pesantren Hamdalah.