Syaichona Cholil Bangkalan memang terkenal waliyullah. Pernah suatu ketika muridnya ada yang meninggal dunia. Sebagai seorang guru besar, beliau menyempatkan untuk ta'ziyah dan bahkan beliu sendiri yang menalqini muridnya itu.
Uniknya, talqin yang diucapkan Kyai tidak seperti yang biasa diucapkan oleh Pak Modin, panjang lebar dan berbahasa Arab.
Kata Kyai Cholil di dekat batu nisan hanya berucap : "Hai mayyit, jika ditanya malaikat, katakan saja bahwa kamu santri saya!" seraya menyentuh nisan dihadapannya.
Jumat, 23 April 2010
KH. SAHAL MAHFUDZ KAJEN: Antara 'Dawuh' dan 'Maqolah'
Dalam dunia perpolitikan, lembaga manapun termasuk NU akan bersusah payah menempatkan lembaga pada posisi netral, tidak memihak salah satu kontestan manapun. Namun, tidaklah mudah menjelaskan kepada umat, terutama umat pers, bahwa NU itu netral. Puncaknya adalah ketika Pemilu tahun 2004.
Untuk menegaskan bahwa NU netral dalam hal ini, maka dikeluarkanlah pernyataan sikap langsung dari pimpinan tertinggi di NU yaitu Rais 'Am PBNU, KHA. Sahal Mahfudz.
Rupanya pernyataan sikap yang dilontarkan sekali saja tidaklah cukup, terbukti untuk semakin menegaskan akan kenetralan NU, agar orang tidak lagi banyak bertanya-tanya, Kyai Sahal perlu menyampaikan pernyataan sikap itu secara berkali-kali. Hingga puncaknya sikap itu kembali dibacakan di sebuah acara yang bertajuk Silaturrahim bersama Rais 'Am NU dan Do'a bersama untuk Indonesia yang diselenggarakan oleh KHA. Mustofa Bisri dan KH. Muadz Thohir di Pondok Pesantren Hamdalah Kemadu Rembang asuhan Kyai Alhamdulillah, KH. Syahid.
Ketika tengah memberikan sambutan sebagai penyelenggara, Gus Mus berujar, jika dengan Kyai-Kyai lain mereka masih kurang percaya, maka setidaknya dengan Pimpinan Tertinggi NU, yaitu Rais 'Am NU KHA. Sahal Mahfudz, mesti harus dipercaya.
"Jika tidak lagi percaya dengan Pimpinan Tertinggi NU, berarti sudah tidak percaya pada NU. Jika demikian adanya, silahkan saja keluar dari NU, toh ormas masih banyak. NU tidak akan mati ditinggalkan umatnya!" kata Gus Mus dengan nada prihatin.
Dalam acara silaturrahim itu, Kyai Sahal enggan bicara langsung, tapi mesti membaca naskah. Kata beliau, takut salah ucap hingga akibatnya bisa ditafsirkan macam-macam oleh orang banyak terutama media massa yang justru akan menambah masalah.
Naskah pernyataan sikap yang dibacakan langsung oleh Kyai Sahal, yang juga dibagikan kepada pengunjung dalam bentuk buku kecil, pada alenia kelima tertulis :
".....Namun mungkin karena luasnya dampak persoalan ini dan besarnya ghierah kalian terhadap NU dan warganya, terhadap Indonesia dan rakyatnya, kalian memerlukan 'dawuh' saya selaku Rais 'Am. Maka saya sebagai khadam dan pelayan kalian sudah semestinya menuruti permintaan kalian"
Jika dicermati, ternyata ada yang unik dalam ucapan beliau yang mencerminkan betapa tawadhu'nya Kyai Sahal Mahfudz. Itu bisa dilihat ketika sampai pada kata-kata :
"...kalian memerlukan 'dawuh' saya selaku Rais 'Am....!"
Yang terucap dari lisan Kyai Sahal justru berbeda, yaitu :
"....kalian memerlukan 'maqolah' saya selaku Rais 'Am."
Untuk menegaskan bahwa NU netral dalam hal ini, maka dikeluarkanlah pernyataan sikap langsung dari pimpinan tertinggi di NU yaitu Rais 'Am PBNU, KHA. Sahal Mahfudz.
Rupanya pernyataan sikap yang dilontarkan sekali saja tidaklah cukup, terbukti untuk semakin menegaskan akan kenetralan NU, agar orang tidak lagi banyak bertanya-tanya, Kyai Sahal perlu menyampaikan pernyataan sikap itu secara berkali-kali. Hingga puncaknya sikap itu kembali dibacakan di sebuah acara yang bertajuk Silaturrahim bersama Rais 'Am NU dan Do'a bersama untuk Indonesia yang diselenggarakan oleh KHA. Mustofa Bisri dan KH. Muadz Thohir di Pondok Pesantren Hamdalah Kemadu Rembang asuhan Kyai Alhamdulillah, KH. Syahid.
Ketika tengah memberikan sambutan sebagai penyelenggara, Gus Mus berujar, jika dengan Kyai-Kyai lain mereka masih kurang percaya, maka setidaknya dengan Pimpinan Tertinggi NU, yaitu Rais 'Am NU KHA. Sahal Mahfudz, mesti harus dipercaya.
"Jika tidak lagi percaya dengan Pimpinan Tertinggi NU, berarti sudah tidak percaya pada NU. Jika demikian adanya, silahkan saja keluar dari NU, toh ormas masih banyak. NU tidak akan mati ditinggalkan umatnya!" kata Gus Mus dengan nada prihatin.
Dalam acara silaturrahim itu, Kyai Sahal enggan bicara langsung, tapi mesti membaca naskah. Kata beliau, takut salah ucap hingga akibatnya bisa ditafsirkan macam-macam oleh orang banyak terutama media massa yang justru akan menambah masalah.
Naskah pernyataan sikap yang dibacakan langsung oleh Kyai Sahal, yang juga dibagikan kepada pengunjung dalam bentuk buku kecil, pada alenia kelima tertulis :
".....Namun mungkin karena luasnya dampak persoalan ini dan besarnya ghierah kalian terhadap NU dan warganya, terhadap Indonesia dan rakyatnya, kalian memerlukan 'dawuh' saya selaku Rais 'Am. Maka saya sebagai khadam dan pelayan kalian sudah semestinya menuruti permintaan kalian"
Jika dicermati, ternyata ada yang unik dalam ucapan beliau yang mencerminkan betapa tawadhu'nya Kyai Sahal Mahfudz. Itu bisa dilihat ketika sampai pada kata-kata :
"...kalian memerlukan 'dawuh' saya selaku Rais 'Am....!"
Yang terucap dari lisan Kyai Sahal justru berbeda, yaitu :
"....kalian memerlukan 'maqolah' saya selaku Rais 'Am."
KH. ABDURROHMAN WAHID: Walinya Gus Dur
Ada maqolah yang mengatakan bahwa : "Laa ya'riful waali illal waalii" yang artinya kurang lebih: Orang tidak akan tahu tentang kewalian seseorang kecuali orang itu sendiri adalah wali Allah.Ada wali Allah yang memang kelihatan wali, ada pula yang selama hidupnya tidak menampakkan seorang wali, atau baru ketahuan sebagai wali Allah ketika sudah meninggal dunia.
Umumnya orang menganggap seseorang itu sebagai wali Allah karena terkaan saja. Hal itu timbul karena banyak orang yang terlalu mengagumi karena kehebatannya dalam beribadah, ilmunya atau kejadian-kejadian aneh yang mendukung kewalian seseorang. Atau menirukan ucapan orang lain yang dianggap lebih tahu tentang walinya seseorang, walaupun sesungguhnya belum tentu ucapannya itu 100% benar. Repotnya.... yang bercerita tentang kewalian seseorang itu sendiri belum tentu wali.
Menurut KHA. Mustofa Bisri, jika ada orang yang merasa dekat dengan Allah dan merasa sebagai Wali Allah, berarti orang itu 'Wali Kesiangan'. Justru seorang Wali sungguhan itu tidak merasa bahwa dirinya adalah Wali.
Berbicara soal wali ini, Gus Dur adalah termasuk tokoh yang dianggap sebagai wali oleh umatnya.
Menjelang Pemilihan Presiden 1999 di MPR, Gus Dur didengung-dengungkan orang sebagai seorang Wali Allah. Syahdan, Gus Dur berhasil jadi presiden. Gaung kewalian Gus Dur kian menggema. Sampai-sampai Kang Sobari yang juga karibnya Gus Dur bertanya langsung kepada yang bersangkutan.
"Gus, anda dianggap orang sebagai Wali Allah, bagaimana menurut Gus Dur?" tanya Kang Sobari.
"Orang yang menganggap saya itu wali Allah, berarti orang itu tidak bertanggung jawab!" jawab Gus Dur sambil terkekeh.
Langganan:
Postingan (Atom)