Suatu hari Abu Nawas sedang mengendarai keledai yang lari kencang. Ketika melintasi sebuah tikungan, keledainya menabrak seorang nenek yang hendak menyeberang. Si nenek jatuh terjerembab. Abu Nawas menghentikan keledainya. Buru-buru ia turun dan menghampiri si nenek. Ia kaget, sebab si nenek ternyata salah seorang pasien yang dua hari lalu datang berobat kepadanya.
“Nah, apa aku bilang. Seharusnya kamu belum boleh keluar rumah. Beginilah akibatnya kalau kamu bandel,” kata Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Kamis, 18 Agustus 2011
Abunawas: CEMBURU
Sejak terkenal sebagai tabib yang kondang, memang banyak tamu yang berkunjung ke rumah Abu Nawas. Sebagian di antara mereka adalah wanita-wanita muda. Hal itu rupanya menimbulkan rasa cemburu pada istrinya.
Suatu hari Abu Nawas diomeli istrinya.
“Dahulu sebelum menikah, kamu bilang aku ini sebanding dengan dunia seisinya. Tetapi tempo hari hal yang sama kamu katakana kepada salah seorang pasien wanitamu.”
“Apa kamu lupa, bahwa dalam hidup ini ada dunia lama dan ada dunia baru?” Jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Suatu hari Abu Nawas diomeli istrinya.
“Dahulu sebelum menikah, kamu bilang aku ini sebanding dengan dunia seisinya. Tetapi tempo hari hal yang sama kamu katakana kepada salah seorang pasien wanitamu.”
“Apa kamu lupa, bahwa dalam hidup ini ada dunia lama dan ada dunia baru?” Jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Abunawas: Tetangga yang Angkuh dan Kikir
Abu Nawas kedatangan seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Pada suatu sore Abu Nawas mengajaknya berjalan-jalan keliling kota Basrah. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang tetangga Abu Nawas yang terkenal sangat angkuh dan kikir.
Abu Nawas tersenyum dan member hormat dengan cara menganggukkan kepala. Tetapi orang tadi tidak membalasnya. Bahkan tersenyum pun tidak.
“Siapa orang tadi?” Tanya sabahatnya.
“Tetangga saya,” jawab Abu Nawas.
“Kenapa ia bersikap begitu?” Tanya sahabatnya.
“Ia memang sudah terbiasa tidak mau mengembalikan apapun kepada orang lain,” jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Abu Nawas tersenyum dan member hormat dengan cara menganggukkan kepala. Tetapi orang tadi tidak membalasnya. Bahkan tersenyum pun tidak.
“Siapa orang tadi?” Tanya sabahatnya.
“Tetangga saya,” jawab Abu Nawas.
“Kenapa ia bersikap begitu?” Tanya sahabatnya.
“Ia memang sudah terbiasa tidak mau mengembalikan apapun kepada orang lain,” jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Langganan:
Postingan (Atom)