OBAT SAKIT PERUT
Seseorang iseng-iseng ingin meledek Abu Nawas.
“Abu Nawas, saya mengidap banyak penyakit,” katanya bersandiwara.
“Memangnya kenapa?” Tanya Abu Nawas.
“Begini, saya ingin Anda mau mengobati penyakit-penyakit saya ini.”
“Sebutkan saja penyakit-penyakitmu itu.”
“Begini, perut saya sering sakit. Setiap kali rambut di dagu saya tumbuh, perut ini tersa mual-mual . Makanan enak-enak yang saya makan selalu keluar dari anus saya menjadi benda-benda lunak yang sangat menjijikkan. Dan cuaca di dalam perutku gelap sekali.”
“Begini,” jawab Abu Nawas. “Mual-mual yang sering terasa di perutmu itu bisa diobati dengan pisaumu sendiri. Adapun untuk mengatasi kegelapan dalam perutmu itu, sebaiknya kamu gantungkan sebuah lentera kecil supaya cuacanya terlihat terang.”
Mendengar jawaban Abu Nawas tersebut, orang tadi segera berlalu dengan kesal.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Kamis, 18 Agustus 2011
Abunawas: KEBETULAN
Suatu hari Abu Nawas sedang mengendarai keledai yang lari kencang. Ketika melintasi sebuah tikungan, keledainya menabrak seorang nenek yang hendak menyeberang. Si nenek jatuh terjerembab. Abu Nawas menghentikan keledainya. Buru-buru ia turun dan menghampiri si nenek. Ia kaget, sebab si nenek ternyata salah seorang pasien yang dua hari lalu datang berobat kepadanya.
“Nah, apa aku bilang. Seharusnya kamu belum boleh keluar rumah. Beginilah akibatnya kalau kamu bandel,” kata Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
“Nah, apa aku bilang. Seharusnya kamu belum boleh keluar rumah. Beginilah akibatnya kalau kamu bandel,” kata Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Abunawas: CEMBURU
Sejak terkenal sebagai tabib yang kondang, memang banyak tamu yang berkunjung ke rumah Abu Nawas. Sebagian di antara mereka adalah wanita-wanita muda. Hal itu rupanya menimbulkan rasa cemburu pada istrinya.
Suatu hari Abu Nawas diomeli istrinya.
“Dahulu sebelum menikah, kamu bilang aku ini sebanding dengan dunia seisinya. Tetapi tempo hari hal yang sama kamu katakana kepada salah seorang pasien wanitamu.”
“Apa kamu lupa, bahwa dalam hidup ini ada dunia lama dan ada dunia baru?” Jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Suatu hari Abu Nawas diomeli istrinya.
“Dahulu sebelum menikah, kamu bilang aku ini sebanding dengan dunia seisinya. Tetapi tempo hari hal yang sama kamu katakana kepada salah seorang pasien wanitamu.”
“Apa kamu lupa, bahwa dalam hidup ini ada dunia lama dan ada dunia baru?” Jawab Abu Nawas.
(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 7 Nopember 2003)
Langganan:
Postingan (Atom)