Kamis, 28 April 2016

Ketika Bupati di Madura Mantu



Bukan rahasia umum, salah satu yang dirisaukan oleh orang yang punya hajat adalah apabila datang hujan di saat hari H. Tidak terkecuali seorang Bupati di Bangkalan yang hendak mantu. Tentu Pak Bupati tidak ingin di saat ia punya gawe nanti tamunya sedikit. Padahal perencanaan sudah sangat matang, dan biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Pagi itu ia datang ke kediaman Syekh Kholil.
“Syekh, saya hendak mantu. Tolong doakan saya, semoga di hari saya mantu nanti tidak hujan!” Pinta Pak Bupati pada Syekh Kholil.
“Begitu. Baiklah, tunggu sebentar ya Pak!” Syekh Kholil masuk ke dalam kamarnya.
Tidak lama kemudian Syekh Kholil keluar sambil membawa lipatan kertas bekas bungkus obat nyamuk.
“Ini, paku lipatan kertas ini di pintu masuk rumahmu ya!” Kata Syekh pada tamunya.
“Terima kasih Syekh!” Kata Pak Bupati pamit.
Pak Bupati melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Syekh Kholil. Benar saja, di saat Pak Bupati sedang mantu, suasana terang benderang. Hujan benar-benar tidak turun. Pak Bupati sangat bahagia, ia merasa acaranya  berjalan sukses. Tamunya banyak yang datang seperti harapan.
Setelah beberapa hari berlalu, tiba-tiba terbesit di benak Pak Bupati rasa penasaran.
“Kira-kira apa ya, yang dituliskan Syekh Kholil di kertas itu?” Batin Bupati.
Setelah lama direnungkan, muncul keberaniannya untuk membuka lipatan kertas obat nyamuk dari Syekh Kholil. Ia mengambil lipatan yang dipaku di belakang pintunya.
Dengan hati berdebar, dibukanya lipatan kertas tersebut.
GUBRAK!!!
Pak Bupati nyaris terjengkang karena kaget dengan apa yang tertulis. Betapa ia sangat terkejut, yang tertulis di kertas itu tidak seperti yang ia duga. Bukan tulisan doa-doa arab yang panjang, atau kalimat-kalimat bahasa Madura sebagai permohonan doa pada umumnya. Sesaat kemudian ia tertawa keras-keras karena terbawa rasa lucu yang luar biasa.
Tulisan itu berbunyi: “Anu-nya Pak Bupati besar sekali!”
 (ALI SHODIQIN)
(Cerita dari mauidhoh hasanah Pembicara di Haul Masyayikh Ponpes Al Irsyad Rembang Jawa Tengah)

Rabu, 20 Maret 2013

KH. WAHAB CHASBULLAH, AWAS ADA MACAN


Pada lazimnya, bulan Syawal adalah bulan memulai untuk mondok bagi santri. Demikian pula dengan Wahab Chasbullah muda. Remaja dengan perawakan yang kecil, tidak terlalu tinggi, dan berkulit kuning langsat ini pergi merantau, hendak mondok di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Kholil Amin Bangkalan. Sementara itu, di pondok Kiai Kholil sedang mewanti-wanti para santri agar bersiap-siap, memperketat penjagaan. Karena tidak lama lagi akan datang macan di pondok. Tentu para santri ‘sendika dawuh’ mengingat di sekitar pondok memang masih berupa hutan belantara.

Berhari-hari, hingga minggu dua minggu para santri berjaga-jaga, macan yang dimaksud tidak datang juga. Hingga pada minggu ketiga muncullah seorang pemuda kurus menenteng kopor seng menyapa dengan salam.

“Assalamu’alaikum........,” ucap pemuda itu dengan sopan. Mendengar salam itu, sontak Kiai Kholil berteriak: “Santri-santri, macannya sudah datang. Ayo kita usir, jangan sampai masuk pondok!”

Sontak para santri pada ribut, mengambil apa saja yang bisa untuk mengusir macan. Sang pemuda yang melihat puluhan santri membawa senjata menyerbu ke arah dirinya, langsung saja kabur sejauh-jauhnya.

Sang pemuda yang tidak lain adalah Wahab Chasbullah belum bisa mengerti, mengapa dirinya diusir-usir seperti macan yang ditakuti. Tekad hatinya adalah menuntut ilmu, maka keesokan harinya ia datang lagi ke pondok Kiai Kholil.

Apa yang terjadi masih sama dengan kemarin. Ia diusir ramai-ramai oleh para santri hingga membuat dirinya kabur. Niat untuk nyantri di hati Wahab Chasbullah tetap tidak surut. Hari ketiga ia datang diam-diam pada malam hari. Mungkin saking lelahnya diusir-usir terus, akhirnya Wahab tertidur di bawah kentongan surau.

Tak disangka, malam itu Kiai Kholil sendiri yang 'ngonangi' pemuda itu, maka segera dibangunkannya. Setelah Wahab bangun serta merta dimarahi habis-habisan oleh Kiai Kholil. Wahab muda dibawa ke kediaman Kiai Kholil dan diintegrosi, apa gerangan maksud dan tujuannya.

Setelah berhasil menjawab semua pertanyaan Kiai Kholil, akhirnya Wahab Chasbullah diterima sebagai santri Kiai Kholil. Kelak Wahab Chasbullah muda yang diisyaratkan sebagai macan itu menjadi seorang Kiai besar dengan nama KH. Wahab Chasbullah. Beliau menjadi seorang Kiai yang sangat alim, berwibawa bak macan, ahli berdebat untuk sebuah kebenaran, pendiri Komite Hijaz, pembaharu pemikiran, pejuang kemerdekaan, tokoh nasional, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Senin, 13 Agustus 2012

MABRUR Tanpa HAJI

Mabrur Tanpa Haji Diriwayatkan bahwa Abdullah ibn Almubarak berkata: Pada suatu masa ketika selesai pergi haji, aku tertidur di Masjidil Haram. Tiba-tiba aku bermimpi melihat dua Malaikat turun dari langit, lalu yang satu bertanya: “Berapa banyak orang berhaji tahun ini?” “Enam ratus ribu.” “Berapa banyak yang diterima?” “Tidak seorang pun yang diterima, kecuali seorang tukang sepatu di Damsyiq bernama Muwaffaq. Dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya, sehingga semua yang haji pada tahun ini diterima berkat diterimanya haji Muwaffiq itu.” Ketika saya mendengar percakapan itu, terbangunlah aku dari tidur, dan langsung berangkat ke Damsyiq mencari Muwaffaq. Ketika tiba di rumahnya dan kuketuk pintunya, keluarlah seorang laki-laki. Langsung aku bertanya: “Benarkah kau Muwaffaq?” “Ya,”katanya. Lalu aku bertanya: “Kebaikan apakah yang telah Anda lakukan sehingga mencapai derajat yang demikian tinggi?” Jawab Muwaffaq: “Sudah lama sekali aku bermaksud menunaikan ibadah haji, tetapi tidak bisa karena keadaanku. Namun mendadak saya mendapatkan uang 300 dirham dari pekerjaan membuat dan menambal sepatu. Lalu saya berniat menunaikan ibadah pada tahun ini. Suatu hari istriku yang tengah hamil mencium bau makanan dari rumah tetanggaku, dia menginginkan makanan itu. Maka aku pun pergi ke rumah tetanggaku, dan keluar dari rumah itu seorang wanita. Kemudian saya memberitahukan hajatku. Maka jawabnya: “Saya terpaksa membuka rahasiaku. Sebenarnya anak-anak yatimku sudah tidak makan selama tiga hari. Maka aku keluar untuk mencarikan makanan untuk mereka, tiba-tiba aku mendapat bangkai himar (sejenis kuda kecil). Lalu saya potong sebagian dagingnya dan saya masak. Maka makanan itu halal untuk kami, tetapi haram atas kamu,” jawab wanita itu. Mendengar jawaban itu, saya kembali ke rumah mengambil uang semuanya 300 dirham itu, dan saya serahkan kepada tetanggaku itu. Aku katakana kepada ibunya, “Belanjakan uang ini untuk anak-anakmu yang yatim itu!” Dan aku berkata pada diriku, “Hajiku di muka pintu rumahku, maka ke manakah aku akan pergi?” Saudaraku! Marilah kita camkan firman Tuhanku ini: “Kebaikan apa yang kamu kerjakan maka sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Mengetahui.” (QS. Albaqarah (2): 215) (Sumber: Buku “Rahasia Memperoleh Rezeki Halal & Berkah” karya Sulaiman Alkumayi, Pustaka Nuun).