Senin, 30 Mei 2011

DOA DARI KH ARWANI KUDUS

Setiap orang pasti akan membayangkan, seorang Kiai besar yang hafal Alquran akan mengajari doa atau ijazah kepada santri dengan doa berbahasa Arab yang panjang.

Bagaimana jika Kiai besar tersebut justru mengajari doa yang sangat pendek, mudah dicerna, mudah dipahami dan mudah dihafal, dan berbahasa Jawa pula. Kiai tersebut adalah Kiai Arwani Kudus, seorang Kiai hafal Alqur’an dan banyak menelurkan Kiai-kiai yang tersebar di Indonesia. Beliau pernah memberi ijazah doa berbahasa Jawa. Inilah doa dari Kiai Arwani tersebut :

“Ya Allah, mugi Panjenengan paring dumateng kawula lan keluarga kula kamulyan ndonya akherat, beja donya akherat lan slamet ndonya akherat.”

Demikian keterangan dari KH Zaenal Mustofa Blora saat memberikan mauidhoh hasanah di Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Burhan Tanjungsari Rembang Jawa Tengah Indonesia. (Ali Shodiqin)

Selasa, 29 Maret 2011

Gus Dur dan Kiai Khudori : Naik Selinder Saat Ngaji

Gus Dur dan Kiai Khudori: Naik Selinder Saat Ngaji

Sebuah selinder lewat di depan pondok.

“Ayo naik selinder itu!” AjakGus Dur tiba-tiba pada Khudhori, setelah tahu gurunya tertidur pulas saat mengajar.

Alkisah, Abdurrohman Wahid alias Gus Dur ketika masih remaja dipondokkan ke Ulama teman ayahnya, KH Abdul Fattah, Tambakberas, Jombang. Mengingat Gus Dur adalah putra temannya sendiri yang juga seorang Ulama, Kiai Fattah mulang ngaji secara khusus kepada Gus Dur. Tidak dikumpulkan dengan santri-santri yang lain.

Agar Gus Dur tidak sendirian, maka dipanggillah seorang santri lain yang sebaya Gus Dur bernama Khudhori.

Tibalah saatnya mengajar Gus Dur dan Khudhori. Yang namanya Ulama besar, Kiai Fattah pastilah sudah sangat sibuk sekali. Sehingga tiba saatnya mengajar Gus Dur sudah kelelahan. Acapkali di tengah-tengah mengajar Kiai Fattah tertidur pulas. Dua bocah di depannya hanya bisa bengong menunggu gurunya yang tengah tertidur.

Saat itulah ada selinder lewat di depan pondok.

“Ayo naik selinder itu!” AjakGus Dur tiba-tiba pada Khudhori, setelah tahu gurunya tertidur pulas saat mengajar.

Mereka segera menghambur keluar dan naik selinder yang berjalan bak bekicot itu. Walaupun jalannya lambat, mereka sampai juga di Mojoagung, kampung sebelah. Merasa sudah jauh, mereka turun dan kembali pulang ke pondok.

Sampai di pondok,didapatinya Kiai Fattah masih tertidur. Namun tidak lama kemudian terbangun.

“Sampai di mana tadi?” tanya Kiai bermaksud menanyakan halaman kitab kuning yang akan diajarkan.

”Sampai di Mojoagung, Yi!” Spontan Khudhori menjawab.

Kiai Fattah: ”?????......”

Gus Dur hanya tertawa ngakak.

Belakangan Gus Dur dan Khudhori menjadi Ulama besar di zamannya.

(Diceritakan kembali oleh KH Yahya Cholil Staquf, saat mengisi Mauidhoh Hasanah di Haflah Maulid Nabi dan Haul Kiai Nawawi dan Masyayikh di Madin Nawawiyyah Tasikagung Rembang, Sabtu 5 Februari 2011) (Ali Shodiqin)

Kamis, 17 Juni 2010

KH. ABDULLAH SALAM KAJEN: NELAYAN MENABUR IKAN DI LAUT?

Seorang nelayan yang sebetulnya sudah mapan, datang ke Kyai Abdullah Salam di kediamannya, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati. Maksud kedatangannya adalah untuk mengeluhkan perihal rizkinya yang akhir-akhir ini tersendat-sendat. Ia ingin ijazah do'a.

"Kyai, akhir-akhir ini hasil tangkapan kami menurun, tolong berilah kami do'a agar hasil ikan kami melimpah?" kata tamu itu pada Kyai.

"Bapak ini nelayan tulen?" tanya Kyai Dullah Salam.

"Betul Kyai!"

"Untuk menjaring ikan di laut, tentu Bapak ini memakai kapal?"

"Benar Kyai. Bahkan kami sudah punya kapal sendiri."

"Punya jaring sendiri, punya mesin sendiri, dan punya peralatan-peralatan untuk menunjang kelancaran penangkapan ikan!" sahut Kyai.

"Betul sekali, Kyai!"

Diam sejenak.

"Bapak ini pernah menabur bibit ikan di laut?" tanya Kyai tiba-tiba, membuat nelayan itu terkejut.

"Tentu saja tidak, Kyai!" jawab sang nelayan agak linglung. Ia tak menduga jika akan menemukan pertanyaan demikian. Seabreg orang pandai yang pernah dikenalnya, tidak pernah menanyai demikian. Tentu tak terbayangkan jika nelayan harus menabur bibit ikan di laut agar berkembang biak dan menjadi besar-besar sebelum kemudian dijaring ikannya. Mulai dari moyang, buyut hingga kakeknya, ikan-ikan di laut tinggal saja mengeruk tanpa harus menabur anakan ikan terlebih dahulu. Dan.... tak pernah habis.

"Bapak dan kawan-kawan pernah memberi makan ikan-ikan di laut?" tanya Kyai melanjutkan.

"Tid.... tidak pernah Kyai!" Nelayan itu tampak makin gugup. Pertanyaan Kyai tampak kian 'ekstrim'.

"Jika demikian adanya, ya sudahlah!" kata Kyai kemudian.

Diputusi Kyai demikian, nelayan itu tambah bingung, bukankah maksud kedatangannya minta ijazah do'a agar dapat ikan banyak?

"Tapi, kami perlu doa agar hasil kami melimpah Kyai!" Kata nelayan itu belum puas. Ia masih belum mengerti apa yang dimaksud Kyai.

"Iya, saya tahu itu. Bapak ini setiap hari berangkat ke laut?"

"Setiap hari Kyai!"

"Dapat ikan?"

"Dapat Kyai! Tapi tidak sesuai dengan pengeluaran untuk perbekalan melaut! Akhir-akhir ini hasil yang kami peroleh masih merugi!"

"Baiklah. Saya ulangi lagi. Bapak pernah menabur ikan di laut dan memberi makan?"

"Tidak pernah Kyai!"

"Jadi selama ini Bapak ini hanya mengeruk kandungan ikan di laut?"

"Begitulah Kyai. Kami hanya menangkap dan menjaring saja!"

"Oo... jadi selama ini para nelayan itu hanya mengeruk saja?" Kyai geleng-geleng kepala.

"Betul, Kyai. Kami hanya tinggal menjaring saja!"

"Ya sudah kalau begitu!" jawab Kyai sambil beranjak dan masuk ke dalam rumah.

Nelayan itu tampak makin linglung, sungguh ia tidak bisa menangkap jalan pikiran Kyai Abdullah Salam. Perasaannya jadi amat gundah, apalagi jika dilihatnya wajah Kyai menyimpan rasa kekesalan pada dirinya.

Tamu lain yang kebetulan tahu peristiwa itu kasihan juga. Mumpung Kyai masuk ke dalam kamar, tamu itu memberi penjelasan singkat pada pak nelayan.

"Begini Pak. Maksud Kyai Dullah Salam tadi adalah, Bapak ini sebaiknya narimo saja. Jika Bapak tidak pernah merasa menabur ikan dan memberinya makan, tapi setiap hari Bapak jaring ikan-ikan di laut itu, maka adakalanya dapat banyak, adakalanya dapat sedikit. Jadi Bapak sudah baik mau berusaha mencari ikan. Jadi cobalah Bapak untuk bersyukur pada Allah yang telah menyediakan ikan-ikan di laut untuk dikeruk. Intinya adalah, berdoalah seperti biasanya dan besyukurlah, jangan suka mengeluh!"

Demi mendengar keterangan dari tamu itu, kini nelayan itu jadi paham dan mengerti. Kini lega hatinya. Sekarang ia tahu apa yang harus diperbuatnya, yaitu belajar bersyukur. (Sumber Zakaria Al Anshori)