Jumat, 26 Agustus 2011

KIBUL

Mendengar informasi Raja HarunAr Rasyid akan mengadakan kunjungan ke sebuah dusun di wilayah Baghdad, tiga hari sebelumnya Abu Nawas berangkat ke desa itu. Di sana ia tinggal di rumah seorang sahabatnya. Tepat pada hari kunjungan sang Raja, tanpa pengetahuan sahabatnya Abu Nawas keluar dengan menyamar sebagai seorang petani tua. Ia sedang berjalan di pematang ketika rombongan raja lewat.Seperti yang diharapkan sang Raja turun dari kuda dan menghampirinya.

“Mau ke mana, Pak?” Tanya sang Raja.

“Mau ke ladang,” jawab Abu Nawas acuh.

“Bagaimana keadaan warga dusun ini?”

“Biasa-biasa saja. Sama seperti warga dusun-dusun lain.”

“Maksud bapak?”

“Ya, ada yang sehat ada yang sakit. Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang senang ada yang sedih. Dan seterusnya.”

“Apa pendapat bapak tentang penguasa negeri ini?”

“Terus terang saja, baru kali ini seumur hidup saya punya Raja yang benar-benar kurang ajar!”

“Kenapa, Pak?”

“Ya, selain zalim dia itu kikirnya bukan main. Orang miskin seperti saya ini sama sekali tidak pernah dipikirkan nasibnya. Konon katanya ia suka berfoya-foya dan gila terhadap wanita. Uang rakyat ia hambur-hamburkan seenak perutnya.”

“Apa yang bapak harapkan untuk dia, Pak?”

“Harapan saya hanya satu. Mudah-mudahan dia lekas mati, supaya di akherat dia dimintai pertanggungan jawab oleh Allah.”

“Bapak tahu, siapa aku ini?” Tanya sang Raja yang nampaknya sudah mulai tidak sabar menahan kemarahannya.

“Belum.”

“Kenalkan, aku adalah penguasa yang kamu hujat itu.”

“Oh….,” kata Abu Nawas pura-pura terperanjat. “Dan Baginda Raja tahu siapa sebenarnya saya ini?”

“Belum.”

“Kenalkan, saya ini orang yang sering mengidap penyakit gila. Kalau kebetulan sedang banyak uang saya sembuh. Tetapi kalau sedang melarat seperti sekarang ini penyakit gila saya kambuh, sehingga saya suka berkata yang bukan-bukan. Maafkan saya, mungkin tadi saya menyinggung Baginda.”

“Apakah kamu senang kalau penyakit gilamu kambuh?”

“Tentu saja tidak. Hanya kadang-kadang saja Baginda. Sebab katanya, orang gila itu bebas dari tuntutan hukum.”

“Supaya tetap sembuh, terimalah hadiah uang lima ratus dinar ini.”

“Terima kasih, Baginda. Saya doakan semoga Bagina panjang umur, banyak rezeki, dan hidup tentram,” kata Abu Nawas.

(Sumber : HUMORGATE oleh HA Soenarto, Rembang Pos no. 21-31 Juli 2003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar